Adakah Makna Luhur Dibalik Wudlu Kita?
(Disarikan dari Buku Menjelang Hidayah Al-Ghazali dan ditambah dengan pemaknaan diri oleh Kuswandani sebagai bahan diskusi dan renungan bersama)
Wudlu menurut bahasa Arab berarti air juga memiliki arti lain sebagai pensucian, artinya sebuah tata cara yang Rasulullah Saw. ajarkan agar umatnya menggunakan air sebelum melaksanakan shalat agar tersucikan baik secara lahir maupun batinnya.
Wudlu sebagai tindakan lahiriyah seorang hamba untuk mensucikan dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan penghadapan wajah kepada Allah yang Maha Suci.
Namun ternyata tindakan pembasuhan atau pencucian sebagian anggota tubuh ini tidak sekedar sebuah ritual membersihkan aspek lahiriah berupa jasad kita saja… dibalik aspek lahiriah ini, saya menemukan sebuahh pemaknaan lain yang tampak lebih luhur, lebih dalam, lebih menyejukkan sebagai sebuah prosesi membangun kesadaran diri akan pentingnya pensucian lahiriyah yang seharusnya berdampak pada pensucian batin kita…
Pensucian lahiriyah dengan air wudlu, dan pensucian batin kita dengan hadinya pengetahuan. Pengetahuan yang benar dimata-Nya adalah pengetahuan yang melahirkan sebuah kesadaran baru, dari kesadaran demi kesadaran seharusnya kelak akan melahirkan bentuk penghayatan. dan dari sebuah penghayatan akan hidup ini, kelak akan terbit sebuah bentuk lain dalam diri yaitu penyesalan akan kesalahan demi kesalahan masa lalu kita, keburukan kita, dan segala kelalaina serta ketergelinciran kita…
dari penyesalan inilah nurani kita akan menuntun pada sebuah ungkapan istighfar, memohon ampunan akan segala dosa dan kesalahan….
inilah bentuk proses taubat sebagai pensucian jiwa.
Seberapa layak kita memperoleh sambutan Allah Yang Maha Suci, bergantung penuh kepada kesucian lahiriyah kita dan batiniyah kita.
Demikian pula dengan apa yang menjadi ibadah wudlu, Alghazali menuntun kita dengan merangkaikan setiap tindakan fisik pensucian sebagian anggota tubuh dengan lontaran doa demi doa..
Karena selalu ada hubungan erat antara tindakan lahiriyah dan tindakan batiniyah, hingga setiap doa lahiriyah yang diucapkan lisan tentu memiliki makna mendalam bagi sang jiwa dari aspek batiniyah sang hamba.
Berikut ini tuntunan beliau…
Sebelum memulai wudlu Imam Al-Ghazali menganjurkan siwak [sikat gigi] sebagaimana sabda suci Rasulullah Saw. “Seandainya aku tak khawatir akan memberatkan umatku, tentu akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak sebelum shalat.” [Bukhari Muslim]
Doa sebelum melaksanakan wudlu:
رَ بِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنَ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونَ
“Wahai Sang Pemelihara, aku berlindung dari kejahatan syetan-syetan, dan aku berlindung ya Rabbi dari kehadiran mereka.”
[Sebuah permohonan kepada Allah sebagai Rabb Sang Pemelihara hamba-Nya agar dilindungi dari godaan syetan yang membisiki manusia agar lalai dalam melaksanakan ibadah wudlu yang mensucikan jasad dan jiwanya, sebagai syarat sahnya shalat yang menuntut adanya kesucian lahir juga kesucian batin.]
1. Mencuci telapak tangan tiga kali sebelum memasukan keduanya ke dalam bejana air, dengan do’a:
اَللَّهُمَّ ِإ ِنّي أَسْأَلُكَ اْليُمْنَ وَاْلبَرَكَةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشُّؤْمِ وَاْلهَلَكَةِ
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu keberuntungan dan keberkahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kesia-siaan dan kebinasaan.”
[Telapak tangan merupakan simbol keberuntungan, kebaikan yang memberkahi, sesuatu yang tampaknya buruk yang dihadapi padahal di mata Allah adalah sebuah kebaikan semata. Karena itu basuhan air pada telapak tangan adalah juga mengantarkan pada permohonan agar dirinya mendapatkan kebaikan yang memberkahi serta dijauhi dari kesia-siaan hidup dan kebinasaan.]
2. Berkumur tiga kali, dengan do’a:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى تِلاوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ وَ ثَــــبِّتْنِى بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
فِى الْحَيَاةِ الُّدنْيَا وَ اْلاخِرَةِ
“Ya Allah tolonglah aku sehingga aku bisa membaca kitab-Mu dan memperbanyak dzikir kepada-Mu dan teguhkanlah dengan Firman yang Teguh di dalam kehidupan dunia dan akhirat.”
[Sebuah permohonan batin kita di balik kumuran air di mulut, memohon diberikan kemampuan membaca kitab Allah baik yang tertulis di dalam Alquran atau pun yang tidak tertulis dalam ciptaan Allah dan peristiwa alam semesta maupun kejadian sehari-hari dalam garis kehidupan setiap diri. Memohon pula diberikan keteguhan-Nya]
3a. Menghirup air di hidung dan menghembuskannya, dengan iringan do’a:
اَللَّهُمَ أَوْجِدْ لِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَأَنتَ عَنِّي رَاضٍ
“(ketika menghirup air)
“Ya Allah berikan kemampuan kepadaku untuk dapat mencium wangi surga dan Engkau Ridla kepadaku.”
[Sebuah permohonan kepada Dia Ta’ala agar diberikan kemampuan merasakan surga baik di dunia maupun akhirat kelak, surga di dunia dalam bentuk tindakan sang hamba yang sesuai dengan kehendak Allah, dan ridla dengan apa pun yang telah Allah gariskan dalam kehidupan kita, dan itulah tanda ketika Allah telah ridla dengan apa yang kita lakukan]
الَلَّهُمَّ إِ ِنّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَمِنْ سُوْءِ الدَّارِ
3b. - (ketika air dihembuskan kembali)
“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari bau neraka dan buruknya tempat tersebut.”
[Permohonan perlindungan dari tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah yang itu merupakan sebuah neraka kehidupan baginya, serta tempat ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar